loading...
Banyak yang beranggapan jika LGBT bisa menular. Misalnya, seorang yang berteman dengan gay maka akan menjadi gay, begitupun jika memiliki banyak teman lesbian, maka akan jadi lesbi dan seterusnya. Apakah itu benar adanya?Dalam hidup manusia, selain seks atau jenis kelamin, manusia dibedakan dari segi seksualitas. Bisa saja secara seks (jenis kelamin) dia laki-laki, namun secara seksual lebih nyaman berposisi sebagai perempuan. Pun sebaliknya.
Seksualitas menyangkut ekspresi dan orientasi seksual. Kenapa ada perempuan yang menampilkan sisi maskulin, dan kenapa ada lelaki yang menampilkan sisi feminim. Itulah ekspresi yang menurut orang tidak sesuai dengan jenis kelaminnya.
Umumnya, ekspresi dan orientasi itu terbit dari dalam. Beberapa kasus seperti trauma seksual mungkin mempengaruhi, namun bisa dipulihkan lewat terapi. Sementara ekspresi dan orientasi yang datang dalam, berkaitan dengan rasa nyaman.
Jadi tidak bisa saling terpengaruh. Bahkan seorang yang memang hetero atau straight akan mengalami disguisting (rasa jijik) pada homoseksual. Seorang lelaki straight akan merasa tidak nyaman dengan waria, atau gay sekalipun gay tersebut cukup maskulin.
Jika ada yang mengaku menjadi gay karena tertular, sebenarnya tidak demikian. Ia sudah memiliki ekspresi dan orientasi dalam dirinya, namun ia kekang karena merasa tak sesuai dengan lingkungan. Baru muncul setelah bertemu teman sesama.
Mereka yang straight tidak akan mudah begitu saja berubah, bahkan ketika memiliki teman gay atau lesbian, sulit untuk merubah ekspresi dan orientasi begitu saja.
Jika LGBT bisa ditularkan, kenapa Straight tidak bisa? Inilah yang menjadi dalil psikologis. Padahal straight justru lebih umum dan sesuai lingkungan, nyatanya ia tidak bisa juga ditularkan.
Seksualitas yang berupa ekspresi dan orientasi itu sudah terbentuk dalam diri setiap manusia. Masalahnya, tidak semua manusia berani memunculkan sisi seksualitasnya, dan memilih mengekang agar tak mendapat masalah di lingkungannya. (Ham/Ath)
Tags:
lgbt
