Jiwa manusia
bisa menampung banyak hal, tergantung bagaimana fikiran meresponnya. Ada manusia
yang berjiwa besar, ada pula yang tidak. Lantas seperti apa manusia yang
berjiwa besar tersebut? Berbagai buku Psikologi, termasuk karya Dale Carnagie
pernah membahasnya. Kami akan merangkum beberapa hal yang nampak dalam
keseharian, yang menunjukkan seseorang berjiwa besar. Mungkin saja kami
memiliki ciri-ciri tersebut.
Marah Untuk
Memperbaiki
Apa maksudnya?
Orang berjiwa besar tetap manusia biasa, yang tak luput dari amarah. Namun ada
perbedaan mendasar marahnya orang berjiwa besar, dengan orang yang kerdil.
Orang kerdil cenderung marah karena hal-hal yang menyangkut kepentingan
dirinya.
Jika anda
seorang atasan, ketika mengetahui ada bawaan melakukan kesalahan dan
menyebabkan pekerjaan terganggu, anda mungkin akan memarahinya, tapi tidak di
muka umum. Jika lembaga tersebut bergerak dibidang jasa, sehingga menyebabkan
konsumen terganggu, atasan tersebutlah yang memintakan maaf dan merasa bersalah
pertama kali. Ia tidak akan memarahi bawahannya di depan umum, tapi di
belakang. Namun keesokan harinya suasana kembali sedia kala.
Jika anda
seorang karyawan, setiap kesalahan membuat anda marah pada diri sendiri, sehingga
membuat anda bekerja keras untuk memperbaiki kesalahan dan tidak mengulanginya.
Mereka yang berjiwa kerdil akan gampang patah dan menyerah dengan keadaan.
Mudah
Melupakan Kesalahan Orang Lain
Umumnya orang
akan selalu mengingat perlakukan buruk orang lain kepadanya. Bahkan sampai
orang tersebut meninggal. Karena ia merasa dirugikan. Namun orang berjiwa besar
akan berfikir sebaliknya, ia menganggap orang yang pernah berbuat jahat padanya
adalah ujian bagi kesabaran. Sehingga yang ia fikirkan adalah bagaimana bisa
melaluinya. Setelah itu berlalu ia akan lupa.
Orang berjiwa
besar pun juga cenderung lebih bahagia, karena dalam hidupnya tidak terbebani
rasa benci yang berkepanjangan, apalagi dendam. Karena ia menyadari bahwa
benci, dendam, atau iri justru merepotkan dirinya sendiri, membuat hidupnya
sendiri tidak produktif.
Mengingat sisi
Positif Orang Lain, Dibanding sisi Negatifnya
Orang berjiwa
besar nampak dari apa yang dibicarakan. Apalagi ketika membicarakan orang lain,
tak sedikit kemudian yang terbawa emosi lalu membicarakan keburukan orang
tersebut. Orang berjiwa besar bukannya tidak tahu hal-hal negatif itu, namun ia
cenderung melihat sisi positif orang lain.
Menghargai
Karya Orang Lain
Ciri khusus
orang berjiwa besar adalah menghargai karya orang lain, bahkan untuk orang yang
karyanya sejenis dengan karya yang ia buat. Ia tak sungkan memuji sebuah karya,
kalau memang lebih baik dari karyanya sendiri. Bahkan ia akan tetap menghargai
karya orang lain, sekalipun tidak lebih baik dari karyanya, sebab ia sadar
bagaimana rasanya berusaha menciptakan karya.
Apalagi untuk
karya yang tidak bisa ia buat, orang berjiwa besar akan angkat topi. Ia bahagia
secara tulus, karena dengan karya itu ia bisa belajar, menikmati, sekaligus
memotivasi untuk menjadi lebih baik lagi.
Memahami
Keanehan Orang Lain
Dalam
masyarakat mungkin ada orang yang sekilas tidak sama dengan yang lain. Mulai
dari bentuk fisik sampai kebiasaannya. Sebagian orang akan memasang jarak, atau
bahkan memberikan label abnormal. Namun orang berjiwa besar akan mempelajari,
kenapa keanehan itu bisa terjadi? Setelah tahu sebabnya maka ia akan berusaha
memahami, dan tidak ada fikiran sedikitpun untuk melakukan hal yang sama dengan
dirinya. Baginya setiap orang itu unik.
Memaafkan
Terlebih Dulu
Meski tidak
salah, atau bahkan menjadi korban, orang berjiwa besar justru yang meminta maaf
terlebih dahulu, sekaligus memaafkan. Maaf yang diutarakan bukan berarti ia
merendah, atau merasa dirinya salah, tapi maaf karena mungkin kehadirannya
tidak disukai, entah karena alasan apa.
Permintaan
maaf itu ia utarakan lebih karena ingin menjalin hubungan baik, karena sadar
betul bahwa permusuhan tidak akan memberikan dampak positif. Salah satu hal
yang ia lakukan dalam rangka mengharap maaf tersebut salah satunya dengan
berbuat baik.
Pada level ini
sangatlah sulit. Sebab justru dia yang menjadi korban. Misalkan dalam dunia
kerja, dia yang akan selalu disakiti dengan prasangka yang tidak-tidak, atau
bahkan dia yang akan dipecat. Tapi seiring waktu, semuanya akan terjawab
sendiri, mana yang serius bekerja atau sekedar mengklaim. Ketiadaannya akan
terasa, bahkan bisa jadi membuat atasan menyesal karena telah memecatnya. ()
Disarikan dari
berbagai sumber
Penulis : Ifan
Iswara
Penyunting :
I. Falasifa
