Memang masih muncul berbagai perdebatan tentang LGBT sebagai hal yang alamiah atau merupakan penyakit. Namun ada titik temu antara keduanya, bahwa LGBT bisa disebabkan berbagai faktor yang berbeda. Bisa karena proses pembentukan masa prenatal, pola asuh, atau bisa jadi karena mengalami kekerasan seksual.
"Yang perlu dipahami, bahwa LGBT tidak hanya disebabkan satu faktor saja, ada banyak faktor dan treatment yang berbeda pula yang harus dilakukan," ujar Deff Anderson, salah satu psikolog klinis yang melakukan penelitian seputar orientasi seksual.
Masa prenatal atau sebelum kelahiran menjadi faktor penting dalam pembentukan sifat seorang anak. Pada masa prenatal, sebenarnya sudah ada interaksi antara jabang bayi dengan orang tuanya, apalagi ketika usia kandungan diatas 3 bulan.
"Perlakuan selama dalam kandungan juga penting. Kalau orang tua mendambakan anak perempuan padahal jabang bayi adalah laki-laki, itu bisa mempengaruhi. Umumnya mereka akan menyadari perbedaan orientasi seksualnya ketika masih kecil, kalau kasus seperti ini sangat sulit disembuhkan karena itu terbentuk pada fase pra sadar," lanjutnya.
Sementara beda halnya dengan yang mengalami kekerasan seksual. Seperti kasus dilecehkan senior, disodomi, dan sejenisnya. Mereka masuk tipe traumatik. Trauma bisa dipulihkan dengan treatment psikologi secara berkesinambungan.
"Anak laki-laki yang pernah disodomi akan mengalami trauma, termasuk diantaranya rasa tidak percaya diri dengan status seksualnya. Ia merasa inferior karena telah dinodai sesama lelaki, sehingga kejiwaannya sedikit terganggu. Yang seperti ini bisa diterapi secara psikologi," jelas Deff.
Yang penting, masyarakat jangan bersikap semena-mena dengan LGBT, apalagi jika itu menimpa anaknya sendiri. Kenali dulu faktor penyebabnya, lalu kemudian bisa dicarikan jalan keluarnya bersama. Karena salah mengetahui penyebab, juga akan gagal dalam proses pemulihan.
"Tapi jika LGBT menjadi sebuah jalan kesadaran, itu beda lagi. Umumnya para transgender memutuskan hal tersebut. Mereka merubah identitasnya menjadi perempuan, bahkan ada yang sampai operasi kelamin. Kalau yang seperti ini, terapi psikologi macam apapun tak akan berefek, jika tidak muncul dari dalam diri sendiri," pungkasnya.
(Kay/Ath)