Role jadi pertimbangan penting, entah kenapa. Padahal bagiku itu menyiksa. Itu aku alami dalam beberapa kali menjalin hubungan. Kini aku lebih memilih nyaman dulu, dan itu butuh proses.
Banyak yang mengira aku vers, karena tak terlalu mempertimbangkan role. Dulu aku selalu menyebut diri bottom, dan mencari pasangan top. Itu aku alami dalam beberapa kali menjalin hubungan.
loading...
Dalam suasana hubungan dimana role sudah ditentukan, lebih sering aku tertekan, dan mungkin juga menekan. Sering aku bilang ke bf, kamu kan top? Harusnya begini begitu dong.Sering kami bertengkar dan akhirnya putus hanya karena ego yang didasarkan pada role. Karena kami saling menuntut, saat top ngambek selalu aku bilang top kok ngambek? Mungkin lama-lama dia bosan.
Dia pun juga sering menuntutku, yang kurang ekspresif, manja, dan terlalu cuek. Waktu kami berhubungan intim pun, dia sering menyebut desahanku kurang maksimal dan kurang bisa menyenangkannya.
Entahlah. Kadang aku bingung sendiri. Sampai akhirnya aku kenal seseorang, kami akrab dan sudah seperti sahabat. Lambat laun kami saling menyukai, baru akhirnya dia bilang kalau bot.
Aku juga bot. Tapi masa bodo, yang penting kami sama-sama nyaman. Dia pun juga begitu. Akhirnya kami jadian, tanpa peduli role masing-masing.
Awalnya, kami bingung bagaimana bersikap. Tetapi kami menyadari jika kami ternyata tak saling menuntut. Semuanya serba fleksibel. Ini yang membuat kami makin nyaman.
Kadang aku jadi top buat dia, begitupun sebaliknya. Apakah ini yang dimaksud vers? Entahlah. Kami toh tak lagi berpikir soal role, jika ternyata role bisa disepakati kan?
Meski akhirnya kami harus berpisah, karena dia harus menikah. Aku relakan itu untuk masa depannya, karena tahu jika terus denganku apalah jadinya nanti. (Diandra/SPN)
loading...
Tags:
Roman
