Namaku Ardi,
umur 25 tahun. Baru saja aku pindah tugas kerja keluar kota, sehingga aku harus
mulai kehidupan baruku, sebagai anak kos. Aku bekerja sebagai karyawan
perusahaan jasa telekomunikasi, jam kerjaku ful dari senin sampai jum’at. Karena
masih belum berkeluarga, seringkali atasan memberiku tugas tambahan atau bisa
disebut lembur. Sehingga aku bekerja sangat keras.
Lambat laun
aku mulai bosan dengan aktifitas pekerjaan, rasanya seperti mesin yang diperas
untuk menghasilkan uang. Meskipun waktu lembura tak lebih dari jam sembilan
malam, dari jam kantor yang berakhir pukul lima sore. Mau jalan-jalan pun aku
juga tak punya teman, sampai suatu ketika aku berkenalan di grup facebook
dengan salah satu anak SMA di kota itu. Dia lumayan tampan, meski badannya
kecil, bahkan lebih pendek dari aku.
Setelah itu
kami bertemu. Terutama hari sabtu dan minggu, kebetulan kami sama-sama libur.
Suatu ketika karena kami pulang larut malam dan kehujanan, dia mampir ke kosku.
Aku meminjamkan kaosku karena bajunya basah. Meski waktu itu status kami belum
menjadi pacar.
Anehnya sampai
larut malam kami sama-sama tak bisa tidur. Kami pun mengobrol santai, banyak
topik kami obrolkan, sampai akhirnya dia mencurahkan perasaannya kepadaku, dia
bilang nyaman denganku, sampai secara langsung menanyakan apakah mau jadi
pacarnya. Sebelumnya dia juga menjelaskan kalau dia seme.
Jujur saja aku
kurang begitu tahu istilah seperti itu, karena dialah cowok yang paling deket
denganku. Selama ini aku fokus bekerja, bahkan ketika sekolah dan kuliah aku
terlalu fokus pada pendidikanku, sehingga tidak memikirkan hubungan asmara.
Baru setelah kerja pindah keluar kota, aku merasakan perlunya seseorang.
Anehnya, meski
aku menganggap dia adek, karena usianya terpaut jauh dibawahku dan masih kelas
dua SMA, tapi aku merasakan hal yang nyaman. Fikirku apa salahnya, maka aku pun
menerimanya menjadi pacar. Malam itu menjelang tidur, kami pun jadian. Sebagai
tanda jadian, dia pun minta memelukku.
Memang agak
canggung rasanya dipeluk anak SMA yang tubuhnya lebih kecil dariku, meskipun
tidak begitu jauh perbedaannya. Dia memelukku dengan mesra dari belakang,
sembari mengendus kuping, pipi, sampai leher. Tiba-tiba otot-ototku terasa
lebih kaku, mungkin sedikit grogi dan kaget dengan perlakuan semacam ini. Tapi
kedua tangannya dengan mesra melilit perutku, kadang naik mengusap dadaku.
“Apa tandanya
kalau kita jadian?” bisik dia.
“Tanda apa?”
tanyaku sedikit bingung.
Dia kemudian
menciumi pipi dan leher, rasanya aneh, tapi sekujur tubuhku sedikit lebih
hangat. Dia kemudian mengusap-usap dadaku dan sedikit menyentil bagian
putingku. “Ini tanda kalau kita jadian,” bisiknya lagi.
bersambung :
lanjutkan ke
Tags:
Cerita
